Sabtu, 15 Maret 2014

Saya yang Telah Membuat dia Berubah? Apa iya?



Dialah laki-laki yang sering saya panggil “boy”
Sudah lama ingin menuliskan ini, namun belum menyempatkan, biasalah orang sibuk itu yaaa gitu deeh, *sibuk tidur dan berimajinasi :P
Siapa dia? “si boy” sedikit yang saya tahu soal dia dan masalalunya, yang pasti saya ikut berperan dalam perubahannya yang kini tengah menjadi perbincangan teman-teman terutama teman sekelas
*emot sesenggukan, mereka bilang ini karena sayaaaa *aaaaaaakkkk 
Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang ingin membaca tulisan ini. Selamat membaca  *emot senyum 5 centi
Siapa yang nggak kenal Ippo santoso? Mas Ippo yang menjadi salah satu pengusaha sukses berkat kerja otak kanannya, sering mengadakan seminar-seminar hebat, namun saya sendiri belum pernah mengikuti seminarnya, kata si Boy sih bagus tapi yaa mahal banget pendaftarannya.
Dulu, sering sekali dia menceritakan tentang mas Ippo, bahkan dia ingin sekali menjadi agen otak kanannya mas Ippo, *mungkiin, karena dia memang begitu otak kanan (sudah pernah saya tulis di blog ini juga) dan semuanya berawal dari ini dan semoga tidak salah.
Yap, tentang si boy (masalalu) awal ketemu ya semenjak kami satu kelas tapi nggak dari semester satu sih.
Meskipun satu kelas, awal-awalnya kami tidak saling mengenal bahkan jarang sekali bertegur sapa, seingat saya dia sering bertegur sapa ketika kami ujian Karena kebetulan NIM kami berdekatan, apa ini semua gara- gara NIM ya? *haha
Yap, sering menegur dan bertanya jawaban pada saat ujian, tapi jarang sekali saya memberitahukan jawaban saya kepada dia, karena saya merasa berdosa jika memberikan contekan pada saat ujian, sometimes enggak juga.
Bahkan dulu, ketika saya tidak memberikan jawaban kepada dia, dia marah dan sempat bilang saya ini nggak setia kawan, pelit, dan bla-bla-bla. Sempat juga sakit hati gara-gara perkataan dia yang kurang tertata, dan soal dia yang dulunya belum bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Soal setia kawan dan nggak ada batasan gender.
Dulu, sebenarnya kami dekat dalam arti sering curhat soal mas Ippo, soal bisnis, kuliah, tapi jarang bercerita tentang agama, kalau yang dibahas soal agama selalu diperdebatkan dan dihubungkan dengan rasionalitas, abstrak, dan realita hingga akhirnya berujung menang dan kalah.
Banyak cerita yang sudah saya tulis tentang dia sebelumnya, dia yang hobi kuliner, bajunya bermerk, makannya selalu di WS, dan kalau makan harus pakai sendok dan garpu, begitulah dia yang dulu yang saya kenal. Kalau masalah hati entahnya dia tidak pernah bercerita,  justru saya yang sering curhat soal hati dan laki-laki *hehe* semuanya pakai “dulu” ya? Pakai past tense
*nulisnya sambil ngopi*
Heemb, masih hafal sama bau parfum laundry yang sering dia pakai <----- salah satu yang bikin rindu aaaaaaaaak.
Berapa kali kami pernah makan bareng ataupun berdua saja, mengerjakan tugas bareng atau berdua saja, pernah dibonceng karena terpaksa padahal sudah menolak, yaa semuanya itu hanya lewat begitu saja kok, perlu dikenang tapi nggak perlu ditangisi kalau memang sudah berganti ya artinya ada yang mesti diperbaiki.
Soal dia dimata Sahabat-Sahabat Lainnya,
Ya mungkin bukan yang sesuatu, tapi pasti mereka juga merasa kehilangan si “boy” yang dulu, suka stand up comedy, suka tertawa, buat lelucon, kayak anak SMA, dan pastinya sebelum kenal saya dia jauh lebih berarti untuk sahabat-sahabat dia.
Entah saya harus minta maaf sama siapa, sudah membunuh jati diri si boy yang dulu, karena mereka hanya bisa ngejudge saya dari belakang, tanyakan sama ALLAH yang maha membola-balikan hati, kenapa dia bisa seperti ini.
Berubah Menjadi Lebih Baik ya Bagus dong?
Tapi soal jati diri dia yang hilang secara tiba-tiba dan secara drastis, mungkin itu yang membuat sebagian dari kami merasa kehilangan dia yang dulu, bahkan awalnya masih nyelow karena yang dia ikuti masih bisa kami terima dan nggak yang mentang-mentang, tapi entahnya dia yang sekarang memang sudah meninggalkan apa itu yang namanya sahabat, teman, internet, hubungan dengan kami bahkan sudah tidak seperti dulu lagi, komitmen dia di sebuah komunitas juga sudah mulai tidak dia jalankan dengan baik *miriis
Ya Allah, bagaimana hamba ini? pernah saya menangis dan memohon-mohon agar dia menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya namun tidak meninggalkan kami sebagai sahabat-sahabatnya, tetap menjadi si “boy” yang ngefriend. Namun, usaha memohon pun gagal juga, banyak saran yang saya berikan agar membaca sesuatu jangan mentahnya saja, khawatir banget kalau dia salah mengartikan sesuatu apalagi soal keyakinan.
Sering waktu dia masih semangat-semangatnya meraih cinta-Nya hingga berdebat masalah agama yang sebenarnya tidak boleh diperdebatkan.
Yang kami takutkan apa sih??, yaaa dia salah melangkah.
Terhitung bulan saja, dia sudah seperti tidak mengenal kami. Entah penilaian kami ini benar atau salah yang pasti itu yang ada dalam pikiran kami tentang dia. *menurutnya kami sudah suudzon
Mungkin Dia Sudah Menemukan Tuhannya, Lalu Melupakan Kami (Ngomong Kasarnya Begitu)
Apa sih yang kita cari di dunia ini selain kenyamanan hati kepada sang ilahi?
Heemb, tapi kita hidup bareng boy, kita punya keluarga, teman, sahabat, yang harus diberi ucapan terimakasih karena mereka juga berperan atas perubahan positifmu.
Kalau memang sekarang jalanmu sudah merasa yang paling benar, silahkan jalani semoga ridho ilahi selalu ada padamu, tapi jangan pernah sekali saja merasa yang paling baik, iman dan takwa hanya Allah yang tahu, Allah yang bisa menilai seberapa besarnya iman seseorang. Berterimakasihlah kepada semua orang yang telah menjadikanmu lebih baik dari kemarin ya temen ngaji, ya temen main, ya temen nongkrong, mungkin tanpa mereka kamu tidak akan pernah menemukan jalan ini.

Semuanya telah berubah, namun saya pun berterimaksih kepadamu yang telah membuat saya sendiri semakin malu, saya yang dulu berkata begitu dan begini yang seolah menganggap kamu nggak tahu apapun soal agama, kini kamu memang jauh lebih baik, tapi akan tidak menjadi baik kalau kamu tidak lagi mengenal kami. Wallohua’lam bishowab  *berusaha menjadi lebih baik juga*
Kalau saya yang telah membuat kamu berubah, harusnya bangga, namun saya tidak, karena kamu pergi begitu saja meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan, mampir tanpa permisi pergi tanpa pamit *sakiit* dan kamu begitu menikmati hidupmu yang bahagia sendiri karena sudah merasa dekat dengan-Nya membiarkan oranglain dengan prasangkanya,
 “semua karena khusnul”
Semuanya memang sudah berlalu, tapi masalah hati siapa yang tahu?
Kamu, hanya kenangan yang tidak indah tapi indah banget untuk dikenang. Terimakasih sudah pernah mampir dalam hidup saya dan membiarkan waktuku tersita untuk kamu (dulu). Sekarang ya hanya ucapan selamat tinggal kenangan masalalu *bye 

Latahzan Innallaha Ma’anaa
Wassalamualaikum




Jumat, 14 Maret 2014

Maret, 2014 Apakabar??

Assalamualaikum
Haloo Maret ….Haha
Maaf lama nggak ngeblog lagi,
Tanya kenapa?Jawabannya hanya satu

MALES ….

Astaghfirullah ampuni hamba ya Allah
Hmmm.. rasanya sudah menumpuk kejadian dan pengalaman beberapa waktu ini yang siap dijadikan amunisi tulisan yang mungkin bakal aku baca kembali esok, lusa atau dari sahabat ada yang berkenan membacanya, saya ucapkan terimakasih sebelumnya.
Luarbiasa sekenario yang dibuatNya, nggak ada satupun kejadian yang tidak luput dari hikmah dan pelajaran, dari kejadian yang paling buruk dan kejadian yang paling membahagiakan seumur hidupku. Tapi masih banyak juga yang nyesek didalam sini, dan aku membiarkan semuanya mengalir, bahkan telah ku abaikan agar semua terkesan baik- baik saja. Huuuuhfffm *take a deep breath yaaa*

Masih banyak tentunya yang harus aku perbaiki di tahun 2014 ini, meski sudah bulan maret dan rasanya telat banget untuk memperbaiki diri di awal 2014, so far masih ada niat dan semangat untuk jadi lebih baik lagi, Inshaa Allah Aku semangat ! kan udah jadi kakak semangat, harusnya ya semangat J

Berdasarkan perjalananku yang sekarang sedang didepan laptop ini terhitung setelah KKN rasanya bukan kembali semangat tapi malah galau dan menggalau, berhenti di titik aman tanpa mau beranjak sedikitpun dari titik tersebut, kebanyakan sih hanya bisa mantengin handphone dan update yang kurang penting tapi menyenangkan, itu kegiatanku selama ini,

wauuu…mengerikan kalau sampai titik ini melarutkanku dan menyeretku ke tempat tak berdaya dekat pembuangan sampah manusia yang tidak ada artinya apa- apa! *Istighfaaar pokokmen

Sudah semester delapan, dan aku masih stay cool di kolong jembatan *eeh maksudnya di kosan aja sama kadang-kadang keluar cari makan sama kepanti Alfalah, dan entah bagaimana jadinya kalau aku nggak kenal anak- anak Alfalah, aaah Allah begitu sayang padaku, I love Allah for Everything.
  
 

Kamis, 13 Maret 2014












Aku tak ingin banyak bicara, 

hari ini hujan deras, seolah mengerti disini sedang menangis keras, 

Menangisi kalian yang satu persatu hilang dariku


Selasa, 04 Maret 2014

Euforia Pasca KKN- They come from the star and I love you, but Sorry If I miss you


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, bahwa konsep itulah yang seringkali membuat hati ini tidak setuju, dimana saat aku sudah sangat merasa nyaman dengan sesuatu yang aku temukan, namun dengan mudah semuanya bisa hilang, tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku rela berpisah? Apakah aku sudah ikhlas jika yang telah membuatku nyaman dan tentram harus terpisah? *andai- dan aku hanya bisa berandai*

Pertemuan singkat, begitulah kiranya antara aku dan kalian, yaitu delapan orang- orang baru yang telah aku temui selama kurang lebih satu bulan lamanya. Perbedaan membuat kita sadar bahwa tak selamanya kita hidup dengan orang yang seperti kita inginkan, tak selamanya kita hidup dengan damai karena tidak ada perbedaan didalamnya, dan pada akhirnya kita tahu dan melihat bahwa perbedaan yang kita ciptakan itu lebih indah bukan?

Perbedaan ! dimana aku dan kalian tak sama, dan ketika jati diri kita yang sesungguhnya muncul tanpa dipaksa dan berbeda,  dimana aku dan kalian berbeda pendapat, diantara kita ada yang berselisih lalu ada yang menengahi, lalu ada yang menghibur, lalu apalagi ?”
ada yang tidak bisa diam alias selalu ingin berbicara atau cerewet, dan itulah kita, lalu ada yang diam saja lalu pergi dan ada yang pura- pura tidak mengerti, bermacam-macamlah gaya kita agar beda itu tercipta.

Bahagia, barangkali berbeda itulah yang membuat bahagia tercipta, meskipun dibalik perbedaan yang terkadang membuat warna itu menyimpan seribu tanya atau malah terkadang sesak didada, lalu berbagai tanya tentang beda muncul dalam benak kita, “ mengapa kita beda? Mengapa kita tak sejalan? “hey kamu kenapa begini atau begitu ?” itu hanya pertanyaan yang memang seringkali kita abaikan demi meleburkan perbedaan.

Don’t care about “perbedaan” diantara kita, let’s move to the right way.

Sekarang soal rindu yang sukar untuk dibendung, yah itulah kalian yang membuatku merindu tentang sebulan yang lalu, aku hanya mengira sebulan kemarin itu hanya mimpi indahku yang sedikit bercampur buruk karena abu kelud yang membuatku tidak nyenyak untuk tidur,  dan sekarang aku terbangun karena alarmku berbunyi di tanggal 20 februari 2014, aku sangat terganggu dengan kebisingan alarm yang memaksaku untuk bangun dihari itu juga, aaah aku kehilangan mimpi-mimpiku bertemu kalian.

Aku terbangun dan mencari “kemana kalian”? tak maukah kita bertemu disatu rumah untuk waktu yang lebih lama lagi? dan bercengkerama atau sekedar wedangan di teras rumah bersama keluarga ibu Sri ?”
Hilda, Ima, Adi, Aji, Ayu, Eka, nafi, tantri, entah bagaimana bisa delapan nama itu begitu seperti tersimpan rapi didalam peti hati yang dalam, aku takut membukanya kembali karena aku tak ingin mengundang rindu datang kembali, aku takut merindukan jika hanya harapan palsu disitu, aku tak bisa bertemu kalian (lagi).

Aaaak, lebay kata-kataku. Hey Guys I miss you so bad :’)  

Mungkin memang terkesan seperti mimpi ya? sebulan yang lalu seatap dengan manusia –manusia baru dan tiba-tiba nyaman begitu saja, seperti sudah tertuliskan dalam sebuah KK, Kita Keluarga, namun sedihnya ketika tiba-tiba semuanya akhirnya terpisah-pisah seperti layaknya tidak terjadi apa-apa dan  kita pun akhirnya kembali kepada dunia realita.

Waktu itu aku dan kalian harus bangun lebih awal mengejar waktu subuh, dan harus memasak, menyiapkan keperluan masing-masing dan keperluan bersama, mengantri kamar mandi, nyanyi bareng, nonton film korea bareng, dan semua itu bareng *haha, atau wedangan di pagi atau malam hari itulah yang paling dirindukan?

Dan masih banyak kebersamaan yang romantis yang telah kita lewati namun sulit untuk ditulis. Biar semua kenangan itu tersimpan rapi di memori kita masing- masing kelak akan menjadi cerita indah untuk diceritakan. 

KKN, sejenak namun berkesan, KKN, sejenak namun mengundang rindu, KKN nggak akan seru tanpa kita jalani bersama. KKN, cara kita untuk dewasa yang selalu mengambil hikmah disetiap kejadian yang terjadi, baik atau buruk semuanya pasti ada hikmahnya, dan semoga kita tergolong orang-orang yang selalu mengambil hikmah di setiap kejadian.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Amiin


With Love

Khusnul Khoiriyah J


berterimakasihlah kepada D'orange karena telah mempertemukan kita di Watugilang B, *hehe. See you next Guys. Good Luck !!  

Senin, 03 Februari 2014

Tak Akan Hidup Tanpa Perjalanan Berliku


Zahrana kirana,
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Baik ukhti, kali ini saya ingin sekali bercerita tentang perjalanan saya yang sulit (lebay) namun bisa sampai disini, semester tujuh , bagi saya cerita ini sungguh luarbiasa hebatnya (lebay lagi) karena telah memberikan cambuk semangat dalam meraih cita- cita dan Ridho-Nya, sometimes iman dan tekad saya untuk menjadi orang yang lebih baik sering naik turun seperti signal modem saya ini *looh*  
Sebut saja zahrana, gadis desa yang mencoba merantau mengarungi hidup demi cita-cita dan ingin mengangkat kehormatan orangtua yang hanya sebagai seorang petani. Meskipun orangtua zahrana adalah seorang petani dan tidak mengenyam pendidikan yang tinggi seperti orangtua teman-teman zahrana lainnya, namun dirinya bangga dengan kedua orangtuanya yang sangat peduli dengan pendidikan anaknya terutama zahrana sebagai anak ke empat dari lima bersaudara. Bahkan orangtua zahrana sudah berhasil membiayai ketiga kakak zahrana sampai kuliah dan sekarang zahrana bisa melanjutkan kuliah meskipun dulunya dilarang oleh pamannya agar tidak kuliah di pulau Jawa dan memintanya  untuk menjadi pengurus PAUD serta pondok pesantren pamannya, tempat zahrana dibesarkan dan dididik ilmu agama.
Namun, zahrana gadis keras kepala yang tidak ingin menjadi salah satu gadis yang akan menikah muda, zahrana punya mimpi untuk melanjutkan kuliah dan keluar dari desanya demi cita-cita dan pengalaman yang dia mimpikan, Alhamdulillah orangtua zahrana mendukung meskipun pada awalnya ibu zahrana tidak mengizinkan zahrana untuk pergi ke pulau Jawa menuntut ilmu disana dan jauh dari orangtuanya.
Juli 2010
Tahun 2010, setelah dinyatakan tidak diterima tes SNMPTN UNILA zahrana diizinkan oleh orangtuanya melanjutkan kuliah di pulau Jawa menyusul kakak laki-lakinya yang belum lulus juga sampai sekarang.
Seorang diri zahrana pergi ke kota pelajar tanpa diantar oleh orangtuanya, entah apa yang ada dibenak zahrana waktu itu sehingga dia begitu nekat dan berani meninggalkan rumahnya seorang diri, padahal zahrana belum pernah pergi jauh meninggalkan rumah bahkan sampai menyebrangi pulau seorang diri.
Kurang lebih Sehari semalam perjalanan dari lampung ujung pulau Sumatra dengan jarak bermil-mil antara pulau Jawa dan Sumatra dan jarak tersebut yang akan memisahkan zahrana dengan masalalu, kisah cintanya, kisah dengan teman-teman pondoknya, keluarganya dan akan membuat zahrana merasa bersalah karena menolak untuk menjadi seorang hafidzah, meninggalkan tanggung jawab pondok, PAUD yang saat itu tengah dibangun.
Zahrana tak sedikitpun gentar dengan tekadnya, bahkan dia berjanji akan menjalani hidup yang lebih baik di seberang, akan membuat orangtua bangga dan menjadi orang yang sukses nantinya.
Sesampainya zahrana di Kota Magelang, Muntilan di rumah mertua kakaknya yang sekarang telah menjadi orang Magelang karena kakaknya menikah dengan orang asli Magelang.
Sesampainya di TPR Muntilan zahrana turun dari bus dengan satu koper kecil berisi baju seadanya. Tanpa dijemput pula, akhirnya zahrana memutuskan naik ojek dan menuju alamat yang sudah dikirim lewat SMS oleh kakaknya yang pada saat itu sedang bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk menjemput zahrana, “kasian sekali dia”, wajah kecewa berusaha dia tutupi karena merasa tidak disambut  kedatangannya.
aah sudahlah untuk apa mengharap orang lain membantu kita, kalau memang tidak bisa dimintai bantuan, at least saya masih bisa berjalan, saya punya tangan untuk melakukan banyak hal, saya punya mulut untuk bertanya, kalau seandainya saya kesasar”
Zahrana yang sabaaar, lirih zahrana pada dirinya sendiri.
Selang sehari setelah sampai di negeri seberang, zahrana meminta kakaknya untuk mengantarkannya mendaftar ke kampus yang zahrana inginkan sesuai dengan jurusan yang zahrana pula inginkan.
Pagi sekali zahrana dijemput oleh kakaknya. Zahrana tidak berkata apapun kepada kakaknya, bahkan kakaknya malah menunjukan muka kecewanya mengapa zahrana, adiknya harus melanjutkan kuliah bersama dia?
“ngopo kok ndadak rene ki?” Tanya kakaknya ketus,
Dan zahrana hanya diam dan rasanya ingin menangis tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya tadi
Bagaimanapun zahrana punya keinginan kak, seperti kakak – kakak disini. Saya sendirian kak dirumah, saya merasa durhaka kak kalau tidak pergi meninggalkan orangtua dirumah, saya sering membantah, tidak ikhlas, karena apa- apa saya kak yang disuruh, ya termasuk mentransfer uang kalian setiap bulannya kak, saya capek kak, saya juga pengen bebas, pengen melihat dunia luar itu gimana, saya pengen punya pengalaman yang bisa merubah pola pikir saya dan orangtua dirumah kak, saya ingin lebih baik kak,
Zahrana hanya bisa berkata dalam hati, dia tak sanggup berkata yang sesungguhnya, karena sebenarnya kepergian dia juga pun karena pelarian diri atas beban hidup yang tengah dia rasakan. *sambil mbrebes ini nulisnya*
Setelah beberapa kampus telah dimasuki dan meminta brosur dan mendaftar ke dua kampus, akhirnya zahrana dengan mudah diterima tanpa test di universitas pilihan zahrana sendiri yaitu Universitas Ahmad Dahlan, meskipun dia juga mengikuti tes gelombang tiga di salah satu universitas negeri yang akhirnya juga tidak lolos L *failed
“Yaah, ini sudah jalanku di UAD, jalani syukuri, semoga sukses!”
Angin sepoi, membelai jilbab yang dikenankan oleh zahrana ketika diperjalanan dari kota pelajar (Yogya) menuju kota gemilang (Magelang) yang teduh dan romantis dibonceng seorang kakak laki-laki ganteng membuat zahrana semakin percaya diri, dia bisa menjadi orang yang dibanggakan oleh orangtuanya kelak, entah mengapa tapi begitulah perasaan zahrana pada saat itu.
“pokokmen kudu semangat demi orangtua, aku kudu iso”!!! Ganbate!
Melewati jalanan yang keras, panas dan semua beraspal yang berbeda jauh dengan jalan yang ada didesa meskipun sudah beraspal namun banyak lubangnya,
 “aaah inikan kota??” yang dilewati motor, mobil dan  jarang yang menggunakan sepeda meski Yogyakarta terkenal dengan sepeda ontelnya.
Berhentilah zahrana di lampu merah jalan Magelang saat itu, banyak pertunjukan yang disuguhkan dan zahrana menikmati indahnya alunan musik tradisional keroncong oleh beberapa kelompok pengamen kelas atas menurutnya, karena mereka bernyanyi dan diiringi musik yang indah dan bagus didengarkan, zahrana makin jatuh cinta dengan Yogyakarta. “Jogjaaaaa”
Kabar tentang zahrana pun tak lupa selalu disampaikan kepada orangtua zahrana yang juga menunggu kabar zahrana dinegeri seberang, apakah zahrana baik- baik saja?
Iya, menurutnya zahrana sangat baik bahkan betah tinggal di Magelang, karena belum tinggal di Yogyakarta waktu itu.
Singkat cerita
Waktu terus berlalu, semua kejadian yang telah lalu hanya akan menjadi kenangan dan masalalu yang akan menjadi pijakan dan pengalaman bagi siapapun yang mengalami kejadian apapun dalam hidupnya, dari mulai hidup zahrana yang benar- benar nol besar, zahrana gadis yang tidak mengerti apa-apa soal hidup, zahrana mandiri namun pengalaman hidup, cinta dan bergaul tidak banyak zahrana tahu. Dari mulai menjadi anak ingusan alim, kalem, rajin zahrana pernah mengalaminya, zahrana juga pernah ditipu cinta yang membuat dia semakin percaya dan yakin untuk tidak berpacaran atau menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan mahromnya, zahrana menjadi gadis yang terkenal alim meskipun zahrana menganggap dirinya gadis biasa saja, hanya saja pakaian zahrana yang sudah menutup aurot dan bahkan bisa dibilang mbak-mbak jilbaber, baginya itu hanya image kalau masalah iman dan ketakwaan hanya Allah yang bisa menilai lalu manusia hanya bisa berprasangka.
Sampai pada akhirnya zahrana menyibukan diri dengan mengikuti organisasi yang ada dikampusnya, merasa nyaman di tempat itu, bahkan zahrana mulai merajut mimpi-mimpinya menjadi seorang guru yang tidak hanya bisa mengajar namun mendidik, zahrana banyak belajar dari jatuh bangun pengalaman hidupnya sendiri maupun oranglain.
Tujuh semester telah zahrana lewati, dengan begitu banyak lika-liku hidup yang dihadapinya, banyak masalah yang mendewasaknnya, hingga akhirnya zahrana mengerti semuanya akan kembali padaNya, zahrana ini bukan siapa-siapa, “ayo zahrana bisa menjadi wanita sholehah, dan membanggakan orangtua, agama dan bangsa”.
Soal Rindu
Rasa rindu yang zahrana rasakan kepada orangtuanya semakin menjadi ketika setahun ini zahrana belum pulang kekampung halaman, rasa rindu menjadi sebuah pelecut untuk semangat segera lulus dan bisa mengabdi lagi kepada orangtua, bangsa, agama dan suaminya kelak.
Zahrana semangat, hari ini dilarang Galau
Sekian cerita ini ditulis dengan semangat yang membara setelah seharian hanya tidur di kasur baru dan kosan baru, namun cerita diatas hanya fiktif belaka (bisa jadi tidak) hanya ingin mensyukuri nikmat 10 jari yang diberi, semoga terus semangat untuk menulis ya ukhti *nunjuk diri sendiri*
Wassalamualaikum




Sabtu, 01 Februari 2014

Teruslah Bermimpi

Apa yang kau takutkan
Dengan semua ini
Bukankah kesedihan
Sering kita alami
Keadaan ini
Buat kita terbiasa
Dengarkan ku bicara
Teruslah bermimpi
Walau kenyataannya jauh berbeda
Teruslah bermimpi
Jangan berhenti
*


Percayalah
Lelah ini hanya sebentar saja
Jangan menyerah
Walaupun tak mudah meraihnya
Menghentikan pikiran dengan mata terpejam
Menunggu malam bisa hapus kenyataan
Biar saja mimpi jauh membawa kita
Lirik lagu *
**
Tetap tersenyumlah
Biar semakin mudah
Karena kesedihan pun
Ternyata hanya sementara

PAS BAND ~ KESEPIAN

Lirik lagu ini bikin jleb jleb banget yaaa, lagi menyukai ini dengan sangat :)
Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan?
Berlari-lari ‘tuk wujudkan kenyataan
Lewati, segala keterasingan 
Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan
Ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian 
Digerayangi dan digeliati kesepian 
Walaupun, sejenak nafas dari beban 
‘Tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam
[Reff] 
Hidup ini, hanya kepingan, yang terasing dilautan
Memaksa kita, memendam kepedihan
Tapi kita juga pernah duduk bermahkota 
Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata 
Dicumbui, harumnya putik-putik bunga 
Putik Impian yang membawa kita lupa
[Reff] 
~Hidup ini, hanya kepingan, yang terasing dilautan 
Memaksa kita, merubah jadi tawa